by

Habis Supardi Terbitlah Wadimin

BENGKULU SELATAN | KOMPOLMAS.com Sengkarut baku sikut di internal Partai Beringin Karya (Berkarya) Kabupaten Bengkulu Selatan sebentar lagi usai.

Pertempuran kubu Tommy Soeharto versus Muchdi Pr di tingkat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) tentu saja berkontribusi besar bagi revitalisasi partai politik ini hingga ke daerah.

top

Informasi terhimpun Kompolmas.com, Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Berkarya di Jakarta medio Juli lalu —kemudian hasilnya disahkan Menkum dan HAM RI— menyemburkan turbulensi petaka bertubi-tubi ke kubu Supardi SSos yang kini masih numpang nangkring di kursi DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan.

Tak ayal lagi, gerakan kudeta Supardi SSos terhadap hampir seluruh pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Bengkulu Selatan, termasuk menggantikan posisi Ketua DPD Ramlan Saim menggunakan Surat Keputusan (SK) diduga palsu, tak hanya gagal total.

Justru bakal menghempaskan dirinya hingga berkeping-keping. Ringkasnya, warga Kecamatan Bunga Mas ini sudah dipecat dari keanggotaan partai, sebentar lagi terlempar dari kursi terhormat lembaga legislatif, kemudian terancam meringkuk di balik jeruji besi pasca misteri pemalsuan SK DPD Berkarya makin tersibak lebar.

Sebaliknya, Ramlan Saim yang sebelumnya sempat menjadi “penyintas” kudeta, kini malah memperoleh posisi lebih nyentrik, yakni sebagai Ketua DPW Partai Berkarya Provinsi Bengkulu.

Sejauh ini, belum ada sumber berani menyimpulkan kudeta super-gokil ini ada kaitan dengan perebutan kans perahu pengusung kontestan Pilkada Serentak 2020.

“Serakah. Mungkin itu saja motifnya,” ringkas Wadimin menjawab pertanyaan Kompolmas.com, Sabtu (3/10/2020) pagi.

Sebagai rekan satu daerah pemilihan (Dapil) peraih suara kedua terbanyak, wartawan Koran Tekad dan koordinator liputan KompolmasTV ini enggan berkomentar banyak terkait pelaung dirinya mengganti posisi Supadi di DPRD Kabupaten Bengkulu Selatan.

“AD/ART partai sudah mengaturnya. Regulasinya jelas. Kita ikuti mekanisme itu saja,” pungkasnya.

Wadimin (kanan) menghadiri Musyawarah daerah Partai Berkarya Kabupaten Bengkulu Selatan, bulan lalu. Dalam perhelatan ini, Supardi tidak diundang karena status keanggotaannya sudah dicopot.
Wadimin (kanan) menghadiri Musyawarah daerah Partai Berkarya Kabupaten Bengkulu Selatan, bulan lalu. Dalam perhelatan ini, Supardi tidak diundang karena status keanggotaannya sudah dicopot.

Sementara itu, dua hari lalu, Ketua DPD Partai Berkarya Kabupaten Bengkulu Selatan Syamsul Hadi melayangkan pemberitahuan PAW Supardi kepada pimpinan DPRD setempat.

Melalui surat nomor 011/DPD/BERKARYA/X/2020, bertanggal 30 September 2020, pihaknya mendesak proses Pergantian Antar Waktu (PAW) Supardi disegerakan.

Selain soal status keanggotaan Supardi yang telah tercopot, usulan PAW ini menurut Syamsul Hadi juga untuk mencegah khilaf berkepanjangan koleganya tersebut yang dapat membahayakan masa depan Partai Berkarya.

Pantauan Kompolmas.com, setelah gagal mengkudeta DPD, renteng catatan khilaf Supardi kian panjang saat memilih menghadiri Silaturrahmi Nasional (Silatnas) yang digelar kubu Ketua Umum “terguling” Tommy Soeharto, di Jakarta Selatan, 14 Agustus lalu.

Padahal, di hari itu juga, mestinya dia menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) digelar kubu Ketua Umum Muchdi Pr yang baru saja disahkan pemerintah.

Akibatnya, Ketua DPW Bengkulu mengutus Wadimin —menggantikan Supardi— menghadiri Rakernas tersebut di Surabaya.

Sejauh ini, redaksi Kompolmas.com masih berupaya menghubungi Supardi guna meminta konfirmasi terkait alasan dirinya bersikap dan bertindak dalam serangkaian kisah kelam ini.

Selamat jalan, Supardi![ma]

Comment

Berita Terkini